Kali ini Lazis berkesempatan untuk meliput salah satu pelaku usaha yang tergabung dalam kelompok usaha bersama (KUBE) Sejahtera Mandiri. Beliau adalah Bapak Bejo, seorang pedagang kaki lima yang berada di pinggiran kota SOLO. Tepatnya pengusaha Mie Ayam dan Bakso yang mangkal di depan RSO. Dr. Suharso Solo. Ukuran warung sekitar 6 x 3 m, dengan atap semi permanen yang terbuat dari seng, dengan dua meja yang berjajar serta kursi panjang yang diperuntukkan kepada pembeli, sebuah grobak Mie Ayam kombinasi Bakso, dan meja dapur pembuatan minuman, semuanya lengkap dengan peralatan-peralatan dagang, persis seperti pedagang kaki lima pada umumnya.
Beliau menyatakan bahwa usaha Mie Ayam telah dirintis sejak bujangan ketika masih menjadi penjaga Masjid Al-Manar. Ketika itu ada seorang rekan yang mempinyai usaha Mie Ayam dan beliau belajar darinya. Berjalannya waktu Pak Bejo memutuskan untuk membuka usaha sendiri sampai sekarang ini. Walaupun sudah lama bergelut jualan Mie Ayam ini tepatnya mulai tahun 1994 beliau juga merasakan naik –turunnya penjualan. “Namanya juga di jalan mas, ya kadang waktu rame, kadang juga ada sepinya juga. ya, rejekinya mas.” Kata beliau di sela-sela memberikan pelayanan kepada pelanggan. “Kalau lagi sepi –sepinya ya paling dapet 250 ribu, itu nggak cukup untuk kulakan lagi mas. lha sekarang daging sapinya saja sudah mahal. ya tapi kalo sedang ramai ya lumayan mas, bisa dapet 400 ribu sehari” tambahnya. Seiring berjalannya waktu pun menuntut Pak Bejo melakukan inovasi bagi barang dagangannya. Yang dulunya waktu awal buka bumbu ayamnya hanya ayam biasa, sekarang ditambah cekerayam dan jamur agar pembeli tertarik. Beliau mengatakan bahwa dengan begitu ada inovasi baru yang beda dengan yang lain, tetapi alasan yang paling utama adalah agar pembeli tidak terasa ketika saya menaikkan harga. Coba lihat saja jika saya jual Mie Ayam biasa harganya empat ribu rupiah, tapi kalau saya kasih ceker dan jamur saya menarik harga lima ribu rupiah. Secara itung-itungan saya lebih untung. karena harga jamur berkisar delapan ribu, sedang harga ayam berkisar dua puluhan ribu. Ketika ditanya perihal KUBE, Pak Bejo sangat bersemangat sekali membicarakan bahwa dirinya adalah anggota KUBE Sejahtera Mandiri, yang pada awal pembentukan dulu beliau mendapatkan informasi dari Pak Purwanto untuk mendapatkan bantuan dana bergulir bagi pengusaha –pengusaha kecil. Setelah dikumpulkan sebanyak sepuluh rekan sejawat maka terbentuklah KUBE yang dinamakan Kelompok Pedagang Kecil Sejahtera Mandiri (KPKS Mandiri). Kini telah menempuh penggiliran ke-2 yang sebentar lagi selesai. Beliau menyukai KUBE karena dua hal, dapat menyatukan dan menjadi ajang silahturohmi dan mendapatkan modal usaha tanpa bunga. Walaupun terkadang tidak dapat mengikuti kegiatan pertemuan kube yang didampingi oleh Mas Ari sebulan sekali karena kepentingan yang mendesak. Beliau berharap agar kedepan dari KUBE ini dapat menjadi cikal bakal Koperasi yang dapat mengayomi seluruh anggotanya khususnya dalam permodalan.