

![]() |
![]() |
![]() |
Ahad, 6 ,Nopember 2011, bertepatan dgn hari raya Idul Qurban, Tim nasional sepakbola Indonesia mengunjungi Pesantren Yatim Al Ihsan binaan Lazis Jateng Solo Raya. Pada kesempatan yang langka tersebut, pemain timnas memberi motivasi kepada anak-anak yatim santri Al-Ihsan untuk berusaha mencetak prestasi. Timnas juga berkesempatan memberi santunan dan berdoa bersama anak-anak yatim sebelum besoknya berangkat tanding ke Qatar guna Penyisihan Piala Dunia. Kunjungan timnas dipimpin oleh kapten tim Firman Utina, bersama beberapa official. Dalam kesempatan tersebut, Firman sempat menularkan fighting spirit kepada anak-anak yatim untuk terus gigih meraih cita-cita dan jadi orang baik.
Berikut kutipan berita yang masuk ke redaksi Harian Surat Kabar Suara Merdeka :
Timnas Kunjungi Anak Yatim
''SAYA sebenarnya pingin jadi penyanyi dangdut. Tapi karena suara saya jelek, akhirnya saya memilih fokus jadi pemain bola.'' Sontak pernyataan yang dilontarkan Firman Utina, kapten Timnas sepak bola, mengundang tawa anak-anak pesantren yatim Al Ihsan (Pestima) Surakarta. Ya, Minggu (6/11) malam, salah satu pemain bola kebanggaan anak-anak tersebut mengunjungi asrama yatim yang berlokasi di Jl Apel III Jajar, Laweyan, Solo itu.
Bersama kiper Timnas Hendro Kartiko dan sejumlah pemain sepak bola lainnya, Timnas menyerahkan bantuan uang kepada pondok yang bernaung di bawah Yayasan Al Ihsan itu. Ditemui pengasuh Ustad Ahmad Syaefuddin dan Muhammad Makmur, anak-anak itu tampak sangat bangga dikunjungi pemain pujaannya.
Sejumlah pertanyaan lucu disampaikan anak-anak penghuni pesantren. Seperti bagaimana mengatasi kram kaki saat main sepak bola dan apa cita-citanya pada masa kecil. ''Bukan kram otak kan?''
Selain sebagai bentuk kepedulian, jelas Firman, kunjungan tersebut dimaksudkan untuk meminta dukungan anak-anak yatim sebelum bertanding ke Qatar pada 11 Nopember ini. Sebelumnya, sejumlah anggota Timnas sengaja iuran untuk membeli sapi yang kemudian diserahkan kepada salah satu masjid terdekat dengan tempat mereka menginap.
''Sapi sudah kami serahkan ke masjid terdekat yang sering kami gunakan untuk salat pemain timnas. Karena masih ada kelebihan uang, kami sumbangkan ke sini. Semoga bisa bermanfaat. Kami hanya minta dukungan dan doa dari adik-adik di sini agar kami bisa membawa hasil yang memuaskan pada pertandingan melawan Qatar,'' kata dia tanpa menyebutkan besaran bantuan.
Selama beberapa saat, anak-anak yang kehilangan tumpuan itu berdialog dengan rombongan Timnas. Firman terus memompakan semangat kepada anak-anak tersebut untuk bisa berprestasi di bidang yang disukai, termasuk sepak bola. ''Sepak bola tidak mengenal dari kultur atau kalangan mana. Siapa dia, apakah dia yatim atau orang tuanya lengkap, tidak ada masalah. Yang penting tetap belajar dan berdoa untuk meraih cita-cita.''
Tentu kesempatan berfoto tidak mereka lewatkan. Masing-masing berebut untuk berada di posisi paling dekat dengan pujaan hati.
Seolah tak ingin tamu istimewa mereka cepat pulang, beragam permintaan mereka sampaikan. ''Mbok diperagakan juggling
, biar kami bisa menirukan gerakannya.''Namun, dengan halus permintaan itu ditolak. ''Ini kan masjid, tempat untuk salat. Masak main bola di masjid,'' kata Firman dan Herman seraya tersenyum.
Meski sedikit kecewa, anak-anak tersebut tetap gembira dengan kunjungan itu. Bahkan hingga kendaraan yang ditumpangi rombongan mulai meninggalkan pondok, mereka tetap berdiri memandanginya hingga menghilang di tikungan. (Anie R Rosyidah, Setyo Wiyono)






![]() | Hari ini | 116 |
![]() | Kemarin | 296 |
![]() | Pekan ini | 1583 |
![]() | Pekan kemarin | 1730 |
![]() | Bulan ini | 4521 |
![]() | Bulan kemarin | 5056 |
![]() | Total | 95582 |

Copyright © 2011 by LAZIS JATENG. All Right Reserved
Designed by Azzam Teramedia

