Rumah Singgah Bina Insan Mulia meluncurkan program pertamanya berupa motivasi hidup kepada puluhan anak terlantar yang jadi binaan rumah singgah. Bertempat di atas tanggul sungai pinggiran Kota Solo, atau lebih tepatnya di kelurahan Joyotakan, 45 anak yang tergolong miskin dan terlantar di sekitar kawasan tersebut mendapatkan pendampingan dari Rumah Singgah Bina Insan Mulia.
Acara yang terlaksana pada Ahad, 17 Januari 2010 itu, Rumah Singgah mendatangkan seorang trainer berpengalaman dalam memotivasi anak yaitu Sunarto, seorang pengajar sebuah sekolah unggulan di Kota Solo.
Anak-anak sangat antusias mengikuti sesi demi sesi yang ditawarkan trainer seperti permainan kelompok, kompetisi, maupun cerita-cerita berhikmah, sehingga acara yang berlangsung sejak pagi jam 8.00 hingga
siang jam 12.00 WIB tersebut tidak dikeluhkan oleh anak-anak peserta.
Rumah Singgah sendiri terbentuk dari fakta di masyarakat menunjukan semakin banyaknya kaum miskin, baik di kota maupun di desa memperlihatkan potret buram pembangunan di Indonesia. Hal ini semakin diperparah dengan kesempatan berusaha kaum miskin yang kian terbatas. Di satu sisi kaum miskin ingin bangkit dari keterpurukan, namun di sisi lain kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan peluang untuk berusaha semakin sempit.
Saat ini banyak saudara kita yang tengah bergelut dengan kesulitan ekonomi, sehingga anak-anak mereka pun ikut menanggungnya, dengan terpaksa putus sekolah karena kesulitan biaya. Banyak anak yang akhirnya membuang cita-cita mereka karena tidak memiliki jaminan masa depan. Mereka saat ini sedang menggantungkan harapan, menanti datangnya uluran tangan kita. Bahkan banyak anak usia sekolah yang tidak mendapatkan kasih sayang seutuhnya dari orang tuanya dikarenakan salah satu atau bahkan kedua orang tuanya telah meninggal. Sedangkan figur orang tua adalah figur yang tidak bisa digantikan.
Beranjak dari permasalahan tersebut, Lembaga amil zakat Al Ihsan membuat program Rumah Singgah Bina Insan Mulia, yaitu program pendampingan untuk anak miskin dan terlantar.